Bukan Sekadar Mood Swing, Ini Rahasia Unik PMS pada Puan

Ilustrasi wanita mengalami kumpulan gejala emosional dan fisik PMS sebelum menstruasi
Terakhir Diperbarui: 24 Desember 2025 | Waktu baca: 8 menit

Halo, Puan! ✨

Pernahkah Puan merasa seperti menjadi "orang yang berbeda" beberapa hari sebelum haid tiba? Tiba-tiba ingin menangis karena iklan cokelat di TV, atau mendadak merasa sangat lelah padahal tidak melakukan aktivitas berat? Jika iya, selamat datang di dunia Premenstrual Syndrome atau yang lebih akrab kita sebut PMS.

Meski sering dijadikan bahan candaan, bagi banyak Puan, PMS adalah tantangan nyata yang memengaruhi kualitas hidup. Yuk, kita kenali lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi di balik "badai" bulanan ini!

Apa Itu PMS yang Sebenarnya?

Secara medis, para ahli punya beberapa cara untuk mendefinisikan PMS:

  • Wikipedia: Menyebutnya sebagai kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang berkaitan erat dengan siklus menstruasi.
  • Magos: Menekankan bahwa ini adalah perilaku yang menyusahkan namun bukan disebabkan oleh penyakit organik, dan uniknya, gejala ini akan menghilang segera setelah darah haid keluar.
  • Shreeve (1983) & Brunner/Suddarth (2001): Menjelaskan bahwa perubahan mental dan fisik ini terjadi antara hari ke-2 hingga ke-14 sebelum menstruasi dan mereda segera setelah menstruasi berawal.

Jadi, intinya: PMS adalah paket kombinasi gejala yang datang bertamu sebelum haid dan pamit begitu haid dimulai. 🌸

Seberapa Banyak Wanita yang Mengalaminya?

Puan tidak sendirian! Faktanya, angka kejadian PMS mencapai 80 persen di kalangan wanita. Studi epidemiologi menunjukkan sekitar 20 persen wanita usia reproduksi mengalami gejala PMS tingkat sedang hingga berat.

Bahkan, sekitar 3-8 persen Puan mengalami gejala yang sangat parah hingga mengganggu fungsi harian secara total, yang dalam dunia medis disebut PMDD (Premenstrual Dysphoric Disorder). Jadi, jika Puan merasa gejalanya sangat ekstrem, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional, ya!


Mengapa PMS Terjadi? (Misteri di Balik Hormon) 🧪

Hingga saat ini, penyebab pasti PMS masih terus diteliti, namun para ahli sepakat bahwa ada beberapa "tersangka utama":

  1. Ketidakseimbangan Hormon: Terjadi jungkir balik antara hormon Estrogen dan Progesteron. Biasanya karena kelebihan estrogen atau kekurangan progesteron pada fase luteal.
  2. Gangguan Serotonin: Serotonin adalah zat kimia otak (neurotransmiter) yang mengatur suasana hati. Perubahan hormon bisa membuat kadar serotonin anjlok, memicu depresi, kelelahan, dan gangguan tidur.
  3. Hormon Lainnya: Jumlah hormon Prolaktin yang terlalu banyak atau gangguan pada hormon Kortisol (hormon stres) juga ikut ambil bagian.
  4. Defisiensi Nutrisi: Kekurangan asupan vitamin A, B1, B6, serta mineral penting seperti Magnesium dan kalsium ternyata bisa memperparah gejala.
  5. Gaya Hidup: Kurang olahraga, pola makan tinggi gula dan garam, konsumsi kafein berlebih, alkohol, hingga stres yang tidak terkelola dengan baik adalah pemicu yang sangat kuat.


Faktor Risiko: Siapa yang Lebih Rentan? 🔍

Ada beberapa kondisi yang membuat seorang Puan lebih mungkin mengalami PMS yang lebih terasa:

  • Usia: Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama antara 30-40 tahun.
  • Status Reproduksi: Wanita yang sudah menikah atau pernah melahirkan.
  • Riwayat Mental: Memiliki riwayat depresi, termasuk depresi pasca melahirkan (Postpartum Depression).
  • Kebiasaan Harian: Merokok dan pola makan tinggi makanan olahan (cokelat, teh, kopi, minuman bersoda, dan produk susu berlebih).

Update Pengetahuan 2025: Peran Peradangan (Inflammation) 💡

Pengetahuan terbaru di tahun 2025 menunjukkan bahwa PMS juga berkaitan erat dengan peradangan sistemik dalam tubuh. Kadar protein C-reaktif (indikator peradangan) ditemukan lebih tinggi pada wanita yang mengalami gejala PMS hebat. Inilah mengapa makanan yang bersifat anti-inflamasi (seperti kunyit, buah beri, dan sayuran hijau) kini sangat disarankan untuk meredakan gejalanya.

Kesimpulan

PMS bukan sekadar "alasan" untuk menjadi emosional. Ini adalah sinyal biologis kompleks yang melibatkan hormon, kimia otak, hingga gaya hidup kita. Dengan mengenali penyebab dan faktor risikonya, Puan bisa lebih berempati pada diri sendiri dan mulai melakukan perubahan kecil untuk meredam "badai" tersebut.

Tetap semangat dan terus cintai dirimu, Puan! ❤️


Referensi:

  1. Lusa (2025). Premenstrual Syndrome (PMS) Part 1: Definition and Causes.
  2. Freeman, E. W. (2007). Therapeutic management of premenstrual syndrome.
  3. Brunner & Suddarth (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah.
  4. Shreeve, C. (1983). The Premenstrual Syndrome.
  5. Mayo Clinic (2025). PMS: Symptoms and Causes.

Posting Komentar

0 Komentar