
Terakhir Diperbarui 8 Mei 2026 | Waktu baca: 35 menit
Sejarah sering kali ditulis dengan tinta maskulin, di mana derap langkah prajurit laki-laki di medan perang menjadi sorotan utama. Di sekolah, kita tumbuh dengan mengenal Raden Ajeng Kartini sebagai simbol emansipasi, atau Cut Nyak Dhien sebagai singa betina dari Aceh. Namun, tahukah Puan bahwa di balik kemerdekaan yang kita hirup hari ini, ada ratusan nama perempuan lain yang memimpin armada laut, mendirikan surat kabar pertama, hingga mengguncang mimbar pidato yang membuat penjajah gemetar?
Mereka bukan sekadar "pendamping". Mereka adalah ahli strategi, diplomat, pendidik, dan panglima perang. Mari kita buka kembali lembar sejarah yang berdebu dan memberikan penghormatan bagi para puan hebat ini.
1. Admiral Keumalahayati: Sang Panglima Laut Pertama di Dunia
Jauh sebelum negara-negara Barat mengenal konsep perempuan di angkatan laut, Aceh sudah memiliki Keumalahayati (Malahayati). Ia bukan hanya seorang pejuang, ia adalah Laksamana wanita pertama di dunia modern.
Setelah suaminya gugur dalam pertempuran laut melawan Portugis, Malahayati tidak larut dalam duka. Ia membentuk Inong Balee, sebuah armada tempur yang terdiri dari 2.000 janda prajurit yang gugur. Di bawah komandonya, armada ini menjadi momok menakutkan di Selat Malaka.
Puncak kehebatannya terjadi pada tahun 1599, ketika ia berduel satu lawan satu di atas geladak kapal melawan Cornelis de Houtman, penjelajah Belanda pertama yang tiba di nusantara. Dengan rencong di tangan, Malahayati berhasil menewaskan de Houtman. Keberaniannya memaksa Ratu Elizabeth I dari Inggris untuk mengirim utusan diplomatik guna menjalin kerja sama dengan Kesultanan Aceh.
2. Opu Daeng Risadju: Bangsawan yang Menanggalkan Gelar demi Rakyat
Dari Sulawesi Selatan, kita mengenal sosok Opu Daeng Risadju. Terlahir dengan nama Famajjah, ia adalah bangsawan Luwu yang memilih jalan perjuangan politik yang sangat berisiko.
Ia adalah penggerak utama Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) di wilayahnya. Keberaniannya mengkritik pemerintah kolonial membuat pihak Belanda gerah. Ia dipaksa memilih: melepaskan aktivitas politiknya atau menanggalkan gelar kebangsawanannya. Tanpa ragu, ia memilih rakyat.
Akibat aktivitasnya, Opu Daeng Risadju dipenjara berkali-kali. Bahkan, pada usia senja, ia disiksa hingga mengalami gangguan pendengaran permanen. Namun, semangatnya tidak pernah padam hingga akhir hayatnya. Kisahnya mengajarkan kita bahwa kehormatan sejati tidak terletak pada gelar, melainkan pada keberpihakan kepada keadilan.
3. Ruhana Kuddus: Pena yang Lebih Tajam dari Peluru
Jika sejarah pers sering didominasi laki-laki, maka Ruhana Kuddus adalah pendobrak utamanya. Saudara tiri dari Sutan Sjahrir ini adalah jurnalis perempuan pertama di Indonesia.
Di saat banyak perempuan dilarang membaca dan menulis, Ruhana mendirikan surat kabar Sunting Melayu di Minangkabau pada tahun 1912. Lewat tulisannya, ia memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan dan mengkritik praktik pingitan yang mengekang. Ia percaya bahwa perempuan harus berdaya secara intelektual dan ekonomi agar tidak mudah ditindas. Ia tidak mengangkat senjata, namun tulisannya membakar semangat perubahan di seluruh nusantara.
4. Siti Manggopop: Singa Betina dari Ranah Minang
Buku sejarah mungkin jarang menceritakan tentang Perang Belasting (Perang Pajak) di Sumatera Barat tahun 1908. Di garis depan pertempuran itu, berdiri seorang perempuan bernama Siti Manggopop.
Muak dengan pajak tanah yang mencekik rakyat, Siti memimpin serangan gerilya terhadap markas Belanda di Manggopop. Dengan taktik yang cerdik, ia dan pasukannya berhasil menewaskan puluhan tentara Belanda dalam satu malam. Meski sempat melarikan diri ke hutan bersama anaknya yang masih bayi, Siti akhirnya tertangkap. Keberaniannya membuktikan bahwa ibu rumah tangga sekalipun bisa menjadi panglima jika harga diri bangsanya diinjak-injak.
5. Maria Walanda Maramis: Kartini dari Minahasa
Jika Kartini bersuara melalui surat-suratnya, Maria Walanda Maramis mewujudkannya melalui aksi nyata di lapangan. Di Sulawesi Utara, Maria mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya) pada tahun 1917.
Fokusnya sangat progresif pada zamannya: memastikan perempuan mendapatkan pendidikan tentang pengasuhan anak, kesehatan, dan keterampilan rumah tangga. Namun, pencapaian terbesarnya adalah perjuangannya agar perempuan memiliki hak suara dalam badan perwakilan kota (Minahasa Raad). Berkat kegigihannya, pada tahun 1921, perempuan di Minahasa mendapatkan hak untuk dipilih dan memilih dalam dewan tersebut—sebuah lompatan besar bagi demokrasi Indonesia.
6. Tajul Alam Safiatuddin Syah: Ratu yang Memimpin dengan Ilmu
Aceh tidak hanya melahirkan pejuang fisik, tetapi juga pemimpin intelektual. Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah memimpin Kesultanan Aceh selama 34 tahun (1641-1675).
Di bawah kepemimpinannya, Aceh menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan sastra. Ia melindungi para ulama besar seperti Syekh Abdurrauf as-Singkili dan mendorong penulisan kitab-kitab yang menjadi rujukan di Asia Tenggara. Ia membuktikan bahwa perempuan mampu mengelola stabilitas negara, diplomasi luar negeri, dan kemajuan budaya di tengah tantangan politik yang kompleks.
7. HR Rasuna Said: Sang Singa Podium
Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah alasan mengapa kita memiliki jalan protokol dengan nama yang sama di Jakarta. Ia adalah orator ulung yang membuat penjajah Belanda ketakutan.
Setiap kali Rasuna naik ke mimbar pidato, ia dengan lantang mengecam ketidakadilan kolonial. Ia adalah perempuan pertama yang terkena hukum Speekdelict (hukum yang melarang berbicara menentang Belanda) dan dipenjara karena pidatonya yang dianggap menghasut. Baginya, kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajah, tetapi juga bebas dari kebodohan dan kemiskinan yang membelenggu kaum perempuan.
Mengapa Nama-Nama Ini Jarang Muncul?
Mungkin Puan bertanya, mengapa nama-nama hebat di atas seolah tenggelam dalam narasi sejarah kita?
- Sentralisme Jawa: Sejarah nasional sering kali menitikberatkan pada peristiwa di Pulau Jawa, sehingga pahlawan dari luar Jawa kurang mendapat porsi yang seimbang.
- Bias Gender dalam Penulisan Sejarah: Sejarawan masa lalu sering kali memandang peran perempuan hanya sebagai pendukung, bukan sebagai pengambil keputusan utama.
- Keterbatasan Dokumentasi: Banyak perjuangan perempuan yang bersifat gerilya atau berbasis komunitas lokal yang catatan tertulisnya dihancurkan oleh penjajah.
Kesimpulan
Mengetahui sejarah para puan ini bukan sekadar untuk menambah wawasan, melainkan untuk mencari cermin. Bahwa keberanian, kecerdasan, dan ketangguhan sudah ada dalam DNA perempuan Indonesia sejak berabad-abad lalu.
Tugas kita sekarang adalah memastikan nama-nama mereka tidak lagi hanya menjadi nama jalan, tetapi menjadi napas perjuangan kita di era modern. Setiap kali Puan merasa ragu akan kemampuan diri, ingatlah bahwa ada Laksamana Malahayati yang memimpin samudera, dan ada Ruhana Kuddus yang mendirikan media di tengah keterbatasan.
Mari kita tulis ulang sejarah kita sendiri—sebuah sejarah di mana perempuan berdiri tegak, setara, dan merdeka.
Daftar Pustaka / Referensi
- Adams, Cindy. (1965). Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams. (Membahas konteks perjuangan kemerdekaan).
- Alfian, Ibrahim. (1987). Perang di Jalan Allah: Perlawanan Rakyat Aceh Melawan Belanda. Jakarta: Balai Pustaka.
- Andaya, Barbara Watson. (2006). The Flaming Womb: Repositioning Women in Early Modern Southeast Asia. University of Hawaii Press.
- Kementerian Sosial RI. (2025). Profil Pahlawan Nasional Indonesia: Biografi dan Perjuangan.
- Said, Mohammad. (1981). Aceh Sepanjang Abad. Medan: Percetakan Waspada.
- Toer, Pramoedya Ananta. (2003). Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta: Lentera Dipantara.
- Vreede-de Stuers, Cora. (2008). Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian. Jakarta: Komunitas Bambu.
- Yusra, Abrar. (2019). Ruhana Kuddus: Wartawan Perempuan Pertama di Indonesia. Jakarta: Gramedia.
0 Komentar
Hai, silakan berekspresi di kolom komentar ini!