Bumi dan Puan: Mengapa Perempuan Adalah Kunci Pelestarian Lingkungan (Eco-Feminism)

Ilustrasi perempuan yang sedang merawat tanaman, menggambarkan konsep ecofeminism dalam menjaga ekosistem bumi.

Terakhir Diperbarui 8 Mei 2026 | Waktu baca 45 menit


Di tengah hiruk-pikuk krisis iklim global, kenaikan suhu bumi, dan kepunahan keanekaragaman hayati, muncul sebuah kesadaran bahwa cara kita memandang alam selama ini sedang mengalami kegagalan. Kita sering melihat alam sebagai komoditas yang bisa dikeruk habis, sebuah objek pasif yang ada hanya untuk melayani ambisi manusia. Menariknya, pola pandang yang eksploitatif ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan bagaimana sistem patriarki memandang perempuan selama berabad-abad.

Di sinilah Eco-feminism (Ekofeminisme) hadir. Ia bukan sekadar teori akademis, melainkan sebuah gerakan spiritual, politik, dan sosial yang menyatakan bahwa perjuangan untuk kelestarian lingkungan tidak bisa dipisahkan dari perjuangan untuk kesetaraan gender. Mengapa? Karena penindasan terhadap alam dan penindasan terhadap perempuan berakar pada satu ideologi yang sama: dominasi.

Artikel komprehensif ini akan membawa Puan menyelami lebih dalam mengenai peran vital perempuan sebagai "penjaga nafas bumi," sejarah gerakan ekofeminisme, hingga aksi nyata yang bisa kita lakukan untuk memastikan bumi tetap menjadi rumah yang layak bagi generasi mendatang.


Bagian 1: Apa Itu Ekofeminisme? (Akar Filosofis)

Istilah "Eco-feminism" pertama kali dicetuskan oleh penulis Perancis, Françoise d'Eaubonne, pada tahun 1974. Ia berargumen bahwa dominasi laki-laki terhadap alam (maskulinitas yang toksik) bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan penindasan perempuan.

1. Logika Dominasi

Ekofeminisme melihat adanya "dualitas" yang diciptakan oleh sistem patriarki:

  • Pria dikaitkan dengan: Budaya, Rasionalitas, Pikiran, dan Penguasa.
  • Wanita dikaitkan dengan: Alam, Emosi, Tubuh, dan Yang Dikuasai.

Karena alam dan wanita ditempatkan dalam kategori yang dianggap "lebih rendah" daripada rasionalitas pria, maka keduanya dianggap sah untuk dieksploitasi. Alam "diperkosa" demi keuntungan ekonomi, sementara agensi perempuan sering kali diabaikan dalam pengambilan keputusan publik.

2. Keterhubungan (Interconnectedness)

Ekofeminisme menekankan bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa alam. Perempuan, melalui siklus biologisnya dan peran tradisionalnya dalam pengasuhan, sering kali memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap perubahan ekosistem. Ini bukan berarti perempuan secara esensial "lebih dekat" dengan alam karena bakat alami, melainkan karena pengalaman hidup mereka yang membuat mereka berinteraksi secara intim dengan sumber daya dasar seperti air, pangan, dan energi.


Bagian 2: Mengapa Perempuan Paling Terdampak Krisis Iklim?

Sebelum kita membahas peran mereka dalam pelestarian, kita harus memahami mengapa perempuan berada di garis depan risiko. Menurut data PBB, 80% orang yang mengungsi akibat perubahan iklim adalah perempuan.

  • Akses Sumber Daya: Di banyak belahan dunia, perempuan bertanggung jawab mencari air dan kayu bakar. Saat kekeringan melanda, mereka harus berjalan lebih jauh, meningkatkan risiko kelelahan fisik dan kekerasan di perjalanan.
  • Kemiskinan Sistemik: Perempuan secara rata-rata memiliki akses yang lebih rendah terhadap tanah, modal, dan teknologi pertanian. Saat gagal panen terjadi akibat cuaca ekstrem, perempuanlah yang paling pertama kehilangan mata pencaharian.
  • Kesehatan Reproduksi: Krisis iklim menyebabkan kelangkaan pangan dan air bersih, yang berdampak langsung pada gizi ibu hamil, menyusui, dan kesehatan reproduksi secara umum.


Bagian 3: Tokoh Dunia dan Gerakan Ikonik Ekofeminisme

Perempuan bukan hanya korban; mereka adalah pemimpin revolusi hijau. Berikut adalah beberapa gerakan dan tokoh yang mengubah wajah dunia:

1. Gerakan Chipko (India, 1970-an)

Ini adalah salah satu aksi ekofeminisme paling murni di dunia. Para perempuan di desa-desa Himalaya melakukan aksi memeluk pohon (chipko berarti memeluk) untuk mencegah penebangan hutan oleh perusahaan komersial. Mereka menyadari bahwa tanpa hutan, tanah akan longsor dan sumber air akan kering. Aksi damai ini berhasil menghentikan penebangan dan menginspirasi gerakan lingkungan global.

2. Wangari Maathai dan Green Belt Movement (Kenya)

Penerima Nobel Perdamaian ini mendirikan Green Belt Movement yang menggerakkan perempuan pedesaan untuk menanam jutaan pohon. Ia menghubungkan penghijauan dengan pemberdayaan ekonomi perempuan dan demokrasi. Baginya, tanah yang subur adalah kunci bagi kebebasan politik.

3. Vandana Shiva

Seorang fisikawan dan aktivis asal India yang sangat vokal melawan benih GMO (rekayasa genetika) dan paten atas benih. Ia memperjuangkan "Demokrasi Benih" (Seed Sovereignty), di mana perempuan—sebagai penjaga benih tradisional—memiliki hak penuh atas pangan mereka tanpa ketergantungan pada korporasi besar.


Bagian 4: Ekofeminisme di Indonesia – Pejuang dari Tanah Air

Indonesia memiliki pahlawan-pahlawan lingkungan yang sangat luar biasa, yang sering kali bergerak dalam sunyi tanpa sorotan media nasional.

  • Kartini Kendeng (Jawa Tengah): Para perempuan petani di Pegunungan Kendeng yang melakukan aksi "menyemen kaki" sebagai bentuk protes terhadap pembangunan pabrik semen yang merusak ekosistem pegunungan kapur dan sumber air mereka. Mereka adalah simbol nyata bagaimana perempuan menjaga rahim bumi.
  • Mama Aleta Baun (NTT): Pemimpin perjuangan masyarakat adat Mollo melawan tambang marmer. Ia memimpin ratusan perempuan untuk duduk diam dan menenun di lokasi tambang selama setahun penuh hingga perusahaan tambang menyerah dan pergi. Ia mengajarkan bahwa menenun adalah bentuk perlawanan, dan tanah adalah tubuh kita sendiri.
  • Mama-Mama Papua: Di berbagai wilayah Papua, perempuan adalah pemegang otoritas atas pasar dan hasil bumi. Mereka berjuang menjaga hutan sagu dari ekspansi perkebunan sawit, karena bagi mereka, hutan bukan hanya kayu, tapi pasar dan apotek bagi keluarga.


Bagian 5: Mengapa Partisipasi Perempuan Mengubah Kebijakan Lingkungan?

Penelitian menunjukkan bahwa ketika perempuan dilibatkan dalam pengambilan keputusan di tingkat desa maupun nasional, hasil pelestarian lingkungannya cenderung lebih baik dan berkelanjutan.

  1. Perspektif Jangka Panjang: Perempuan cenderung memikirkan ketersediaan sumber daya untuk generasi mendatang (anak-cucu), sementara kebijakan yang didominasi pria sering kali lebih fokus pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
  2. Pengetahuan Lokal yang Mendalam: Perempuan sering kali memiliki pengetahuan tentang tanaman obat, varietas benih tahan kekeringan, dan manajemen air yang tidak dimiliki oleh para ahli teknokratis dari luar.
  3. Gaya Kepemimpinan Kolaboratif: Gerakan yang dipimpin perempuan cenderung lebih inklusif dan mengutamakan komunitas daripada hierarki, sehingga solusi lingkungan lebih mudah diterima oleh warga lokal.


Bagian 6: Langkah Nyata Puan untuk Bumi (Eco-Lifestyle)

Ekofeminisme tidak harus dimulai dengan demonstrasi besar. Puan bisa memulainya dari "ruang-ruang domestik" yang selama ini dianggap sepele namun memiliki dampak masif:

  • Kedaulatan Pangan di Dapur: Mengurangi sisa makanan, memilih produk lokal, dan menghindari konsumsi berlebih pada produk yang merusak hutan (seperti produk dari perusahaan yang tidak ramah lingkungan).
  • Mengurangi Plastik dan Limbah Mode: Mengingat industri Fast Fashion adalah salah satu pencemar air terbesar di dunia (yang sebagian besar pekerjanya adalah perempuan dengan upah rendah), memilih untuk thrifting atau memperbaiki pakaian lama adalah aksi ekofeminisme.
  • Edukasi Generasi Berikutnya: Ibu adalah pendidik pertama. Mengajarkan anak-anak untuk mencintai pohon, menghemat air, dan menghargai semua makhluk hidup adalah investasi ekologis terbesar.
  • Advokasi Digital: Gunakan suara Puan di media sosial untuk mendukung pejuang lingkungan perempuan atau menandatangani petisi kebijakan yang pro-lingkungan.


Kesimpulan: Memulihkan Hubungan dengan Ibu Bumi

Ekofeminisme mengingatkan kita bahwa kerusakan bumi adalah cerminan dari rusaknya nilai-nilai pengasuhan, empati, dan keadilan dalam masyarakat kita. Kita tidak bisa menyelamatkan bumi jika kita masih mengagungkan kekerasan dan dominasi.

Bagi setiap Puan, menjadi pelestari lingkungan bukanlah beban tambahan, melainkan jalan menuju kemerdekaan diri. Saat kita menjaga hutan, kita menjaga masa depan anak-anak kita. Saat kita memprotes perusakan air, kita membela hak hidup kita sendiri.

Mari kita pandang bumi bukan sebagai barang tambang yang mati, melainkan sebagai "Ibu" yang memberikan kehidupan. Esensi dari seorang Puan yang berdaya adalah ia yang mampu menyatukan kecerdasannya dengan kelembutan untuk menjaga agar nafas bumi tetap berdenyut.


Daftar Pustaka & Referensi

  • Shiva, V. (1988). Staying Alive: Women, Ecology, and Development. London: Zed Books.
  • Mies, M., & Shiva, V. (1993). Ecofeminism. Halifax: Fernwood Publications.
  • Maathai, W. (2006). Unbowed: A Memoir. New York: Alfred A. Knopf.
  • d'Eaubonne, F. (1974). Le Féminisme ou la Mort. Paris: Pierre Horay.
  • Merchant, C. (1980). The Death of Nature: Women, Ecology, and the Scientific Revolution. San Francisco: Harper & Row.
  • Komnas Perempuan. (2023). Laporan Pemantauan Pelanggaran Hak-Hak Perempuan dalam Konflik Sumber Daya Alam di Indonesia.
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2025). Strategi Nasional Pengarusutamaan Gender dalam Perubahan Iklim.
  • United Nations Women (UN Women). (2022). Explainer: How Gender Inequality and Climate Change are Interconnected.
  • Arivia, G. (2015). Ekofeminisme: Perspektif Etika Kepedulian untuk Lingkungan. Jurnal Perempuan.

Posting Komentar

0 Komentar