Sering Emosi Menjelang Haid? Jangan Salahkan Diri Sendiri, Ini Faktanya

Ilustrasi seorang wanita mengalami gejala PMS seperti perut kembung dan perubahan suasana hati
Terakhir Diperbarui: 24 Desember 2025 | Waktu baca: 8 menit

Halo, Puan! ✨

Pernahkah Puan merasa tiba-tiba ingin menangis tanpa alasan jelas, atau mendadak ingin marah pada hal sepele hanya beberapa hari sebelum "tamu bulanan" datang? Kalau iya, tenang... Puan tidak sendirian.

Pengalaman setiap perempuan dalam menghadapi menstruasi memang unik dan tak pernah sama. Ada yang tetap aktif seolah tidak terjadi apa-apa, namun ada pula yang harus mendekam di rumah karena rasa sakit yang tak tertahankan. Mari kita bedah fenomena yang sering disebut sebagai Premenstrual Syndrome (PMS) ini agar kita lebih bisa berdamai dengan tubuh sendiri. 🌸

Apa Itu PMS yang Sebenarnya?

Menurut para ahli, PMS adalah kumpulan gejala perubahan mental dan fisik yang biasanya terjadi antara hari kedua hingga hari ke-14 sebelum menstruasi. Kabar baiknya, gejala ini biasanya akan mereda hampir seketika begitu darah menstruasi mulai keluar.

Banyak perempuan mulai merasakan tanda-tandanya sejak masa menarche (menstruasi pertama kali). Gejalanya bisa berupa fisik maupun psikis yang cukup mengganggu aktivitas harian.

Sinyal dari Tubuh: Gejala Fisik yang Menyiksa 😫

Jelang haid, tubuh sering kali memberikan sinyal yang "ramai". Beberapa gejala fisik yang umum terjadi antara lain:

  • Perut Kembung & Berat Badan Naik: Terasa seperti berat badan naik beberapa pon secara mendadak.
  • Payudara Kencang: Area payudara menjadi lebih sensitif atau nyeri saat tersentuh.
  • Kaki Pegal: Rasa lelah yang menjalar hingga ke kaki.
  • Nafsu Makan Meningkat: Muncul keinginan makan (craving) dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya.
  • Gangguan Lain: Perut mulas, mual, panas, pusing, hingga tubuh terasa demam (tidak fit).
  • Masalah Kulit & Area Kewanitaan: Kadang muncul gatal-gatal, keputihan, radang pada vagina, hingga bau badan yang terasa kurang sedap.

Sinyal dari Pikiran: Gejala Psikis & Depresi Pra-Menstruasi 🧠

Selain fisik, sisi psikologis adalah yang paling sering dirasakan. Perubahan suasana hati (mood swings) membuat banyak perempuan menjadi kurang sabar dan mudah marah—baik kemarahan irasional maupun ketegangan yang hebat.

Menurut Shreeve (1989), tingkat depresi saat PMS bervariasi:

  1. Kemurungan Ringan: Merasa sedih atau murung setiap bulan.
  2. Perubahan Batin Mendadak: Wanita yang biasanya stabil dan bahagia bisa tiba-tiba merasa kacau secara batin.
  3. Gejala Serius: Perasaan tak berguna, kehilangan gairah seks, kurang percaya diri, hingga dalam kasus ekstrem (PMDD) bisa mengarah pada kekacauan batin yang serius.

Gejala-gejala ini biasanya hilang dengan sendirinya begitu menstruasi tiba, namun prosesnya tetap melelahkan bagi Puan yang menjalani.

Penjelasan Ilmiah: Mengapa Ini Terjadi? 🧪

Secara biokimia, dalang di balik semua ini adalah Hormon Estrogen.

Jelang menstruasi, kadar estrogen dalam darah meningkat. Peningkatan ini mengganggu proses kimia tubuh, termasuk metabolisme Vitamin B6 (Piridoksin). Mengapa Vitamin B6 penting? Karena vitamin ini adalah "vitamin anti-depresi" yang mengontrol produksi Serotonin.

Serotonin adalah zat penting bagi otak dan saraf yang mengatur rasa bahagia dan ketenangan. Ketika persediaan Serotonin berkurang akibat gangguan hormon, maka terjadilah depresi, kecemasan, dan emosi yang meledak-ledak. Jadi, kemarahan Puan saat PMS itu ada penjelasan ilmiahnya, lho!

Pengayaan: Tips Menghadapi PMS (Update 2025) 💡

Berdasarkan pengetahuan medis terbaru, Puan bisa mencoba langkah-langkah berikut untuk meredakan gejala:

  • Nutrisi Tepat: Konsumsi makanan kaya kalsium dan Vitamin B6 (seperti pisang, kacang-kacangan, atau ikan).
  • Kurangi Garam & Kafein: Membantu mengurangi perut kembung dan ketegangan saraf.
  • Olahraga Ringan: Jalan kaki santai atau yoga bisa membantu melepaskan hormon endorphin (pereda nyeri alami).
  • Self-Compassion: Sadarilah bahwa ini adalah fase hormonal. Berikan waktu ekstra untuk beristirahat dan jangan terlalu keras pada diri sendiri.

Kesimpulan

PMS bukan sekadar "alasan" untuk marah, melainkan proses biologis nyata yang melibatkan hormon dan saraf. Dengan memahami penyebabnya, kita diharapkan bisa lebih empati terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Punya pengalaman unik saat PMS? Yuk, berbagi di kolom komentar! ❤️


Referensi:

  • Wikipedia Indonesia - Menstruasi & Premenstrual Syndrome.
  • Shreeve, C. (1989). Premenstrual Syndrome: The Essential Guide.
  • Mayo Clinic (2025). PMS Symptoms and Causes: Understanding Hormonal Shifts.
  • Journal of Women's Health - Biochemistry of Serotonin in Menstrual Cycles.

Posting Komentar

0 Komentar